Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Indonesia 2045 - Chapter 1 ~ Java Express



Indonesia 2045 - Chapter 1 Java Express created by R.D. Villam & Klaudiani 

Senin, 31 Juli 2045

Ryo 

"Satryo Mahardika. Gerbong 9 kursi 14A, Java Express." 

Gue melangkah keluar dari area pemindaian, lalu menunggu adik sepupu gue yang mengantre di belakang. Dia merapikan rambut gondrongnya yang berantakan, lalu dengan gaya cool menatap ke arah kamera di atap ruangan; telunjuk dan ibu jari tangan kanannya membentuk pistol di depan dada. Sekelebat sinar biru melintasi tubuhnya. Suara cewek yang sama samar-samar masih bisa gue dengar, berhubung gue masih berdiri di dekat pintu. "River Harjuno Bagaskara. Gerbong 9 kursi 14B, Java Express." 

Mirip dengan suara cewek yang selalu bawain berita-berita di tivi internet. Enak didengar, jemih, manusiawi, tetapi tentu saja cuma imitasi. Nggak ada wanita betulan yang punya suara seperti itu. Namun kalo memang ada, gue harap dia benar-benar cantik. 

Lepas dari gaya narsisnya, River bergegas mendekati gue. Kini dia tampak gelisah dan berkali-kali menepuk tas di pinggangnya. 

"Ada yang ketinggalan?" tanya gue setengah nuduh. 

Dia menggeleng, belum mau bilang. Gue mengangguk aja, pura-pura gak peduli, dan bergegas menuju kereta yang baru saja berhenti di samping peron. 

Java Express, si Peluru Perak tampil megah dan cantik seperti biasa. Dengan lebar empat meter dan tinggi enam meter, setiap gerbongnya terdiri dari dua lantai dan mampu menampung dua ratus orang dalam kondisi semua duduk nyaman. Kali ini jumlah gerbong ada sekitar dua puluh, jadi total penumpangnya berarti banyak deh. 

Pokoknya, ini kereta yang gede, dan juga rapi. Betul, kadang jumlah penumpangnya bisa lebih dan sebagian terpaksa berdiri. Jadi kelihatan nggak mutu untuk ukuran jaman sekarang. Tapi itu nggak masalah. Toh waktu tempuh dari Surabaya di timur sana sampai ke Halimun di barat cuma satu jam, sementara jika dari kota gue, Tidar, ke Halimun cuma setengah jam. Sekali-sekali berdiri selama satu jam mestinya nggak ada apa-apanya dibanding kebiasaan para pendahulu kita puluhan tahun yang lampau, yang rela berdiri dua jam atau lebin di dalam bus demi ngantor ke Jakarta. Atau yang lebih sadis, dua belas jam berdesak-desakan di dalam kereta hanya demi bisa pulang saat Lebaran. Kalo dipikir-pikir, orang-orangtua kita emang luar biasa, ya? 

Kami masuk melalui pintu geser otomatis di belakang gerbong melewati portal putar yang hanya memberi akses masuk untuk penumpang yang sudah terdaftar. Sewaktu gue kecil teknologi pemindaian di stasiun belum secanggih ini. Almarhum Ayah sering ngajak gue jalan-jalan naik kereta, ke berbagai kota di Jawa, dan ia selalu membawa kartu berisi chip yang menyimpan berbagai data si pemilik kartu, termasuk saldo kereta. Sekarang, cukup memindai DNA, cek wajah dan retina mata, dan kita nggak pedu membawa apa-apa lagi. Tinggal menyebutkan tujuan, maka komputer akan mendata lalu menempatkan kita di kursi masing-masing tanpa perlu berebut. Dulu kereta juga sudah menggunakan listrik, namun jalurnya masih terbatas dan harus berbagi popularitas dengan bus atau mobil pribadi. Sekarang? Dengan kereta semuanya serba mudah, murah, dan sangat cepat. 

River menemukan kursi-kursi kami, dan gue duduk di sebelahnya. Tadi sempat gue perhatiin yang naik dari Stasiun Tidar mungkin hanya belasan orang. Lebih banyak yang dari Solo, Malang atau Surabaya. Komputer di dalam kereta langsung menyapa kami melalui layar yang terpasang di punggung kursi penumpang di depan kami. 

''Selamat pagi, Satryo. Selamat pagi, River. Silakan menikmati perjalanan bersama Java Express. Perjalanan ke Halimun akan ditempuh dalam waktu tiga puluh menit. Kereta akan tiba di Stasiun Utama Halimun pada pukul 06.50 Waktu Indonesia Bagian Barat." Dan selanjutnya, dan selanjutnya. Suara cewek yang sama kayak tadi. Sopan dan informatif. Yang selalu gue dengar tiap pagi. Bosan? Nggak sih, cuma ruti nitas biasa. 

Tak lama kereta berjalan. Awalnya perlahan, tetapi begitu keluar meninggalkan kubah kota Tidar kereta melaju kencang bagai peluru. Ya, nggak secepat itu sih, tetapi lumayan untuk membuat gue nggak bisa lagi menikmati pemandangan di luar jendela. Yang ada malah jadi pusing kepala. Nggak heran sebagian besar penumpang sudah memilih menutup layar jendela sejak tadi. Gue memejam sejenak, kemudian menoleh, begitu mendengar River mendesah. Sesuatu di layar hologram smartwatch-nya membuat dia gelisah. 

"Kenapa sih lu dari tadi?" tanya gue. 

"Saldo gue habis," jawab River tanpa melepaskan pandangannya dari layar hologram. "Cuman bisa sampe Blok Dua Belas Nggak cukup sampe ke stadium!" 

"Yan Kapan terakhir cek saldo?" 

"Lupa. Kan gue jarang ke Halimun. Sisanya langsung abis tadi, kirain masih ada," River beralasan, lalu menatap gue memelas, "Bang isiin dong. Lagi tipis nih, habis beli visor." 

Gue ketawa. Dia sudah tujuh belas tahun, tapi kalau lagi minta sesuatu tampangnya masih sama kayak anak umur tujuh tahun. Gue kenal betul ekspresinya, karena kami berdua sudah serumah sejak gue bocah dan dia masih balita. Sekamar malahan, sampai gue bekerja setahun lalu dan kami akhirnya bisa pindah ke apartemen yang lebih besar. Sekaranggue, River dan Rain-adik sepupu gue yang satu lagi-sudah punya kamar sendiri. 

Geleng-geleng kepala, gue sentuh layar smortwarch gue. "Stadium di blok berapa?" 

"Lima belas," sahut River mendadak ceria. 

Gue menghadapkan telapak tangan ke atas dan menggeser layar kecil di pergelangan tangan. Papan layar hologram separuh transparan muncul. Walaupun namanya smanwatch, pada dasamya ini komputer berbentuk tablet. Gue menyentuh beberapa tombol di layar tersebut. 

Sementara itu dari pengeras suara terdengar pengumuman nama stasiun berikutnya, Purwokerto. Kereta melambat lalu berhenti sejenak, sebelum kemudian lanjut ke Bandung. Java Express memang hanya mampir di beberapa kota besar sebelum berhenti di Stasiun Utama kota Halimun, setelah itu gue dan River nanti harus turun dan naik lagi Kerea Dalam Kota dengan rute berbeda gue ke arah kantor sedangkan dia menuju Stadium untuk mengikuti Tumamen Obbion 2045. Walaupun tadi bilangnya jarang ke Halimun, tetapi sebenamya River sudah cukup sering ke sana, jadi gue nggak perlu khavvatir. Lagi pula dia pasti nggak bakalan mau gue antar. 

"Udah nih," kata gue. "Cukup untuk ongkos ke Blok Lima Belas dan pulang ke rumah." 

Tapi segini doang? Pelit amat. Bang Ryo sih enak, ongkos dibayarin kantor." 

lrit, bukan pelit. Makanya cepetan kerja. Biar nggak ngemis ongkos melulu." 

"Eh? Gue kan masih tujuh belas, masih boleh maen dong." River mendengus. "Lagian ini juga kerja. Menang tumamen hadiahnya bisa buat bolak-balik seribu kali ke Halimun." 

"Bolak-balik seribu kali?" Gue ketawa. '''Kalo nanti kerja di Halimun ongkosnya gratis. Mending ditabung duitnya. Atau buat traktir pacar si Mindy. Itu kalo menang ..." 

"Nindy," River meralat, dan tampak panas. "Pasti menang, Bang. Turnamen lokal di Jawa udah gue pegang. Gue udah pernah duel sama juara-juara dari Sabang sampai Merauke, hampir semua keok di tangan gue. Hari ini gue bakal sabet juara nasional!" 

Sesumbamya boleh juga sih. Tetep, gue ketawain aja, biar dia tambah panas. "Gini, deh, biar lo nggak terlalu sedih pulangnya, gue jemput nanti di stadium. Nanti gue bawain handuk buat lo pake ngelap air mata. Plus, sekali ini aja, boleh nangis di bahu gue." 

"Najis!" 

Gue ketawa makin lebar sementara River membongkar isi tasnya lagi, nggak mau ngejawab ledekan gue. Hanis gue akui, sesumbar River cukup beralasan. Setiap hari gue melihat dia-bahkan seringkali ikut juga-bermain gome Oblivion dan dia jarang sekali kalah. Dia bahkan pemah menemukan beberapa bug pada Oblivion dan membantu pihak pengembang game tersebut buat mengoreksinya. Mungkin suatu hari nanti River mau gue bujuk belajar mendesain game dan mengambil Sertifikat Keahlian Pemrograman Komputer. Bakat harus dipupuk. Kalau enggak, seperti tanaman bakalan layu. Haha. Lagi bijak gue nih. Atau jangan-jangan dia udah belajar tanpa gue tahu ya? 

"Stasiun Bandung, Berhenti tiga puluh detik. Mohon bersiap, hati-hati barangtertinggal," pengumuman dari pengeras suara terdengar lagi. 

Gue melirik smartwatch. Tepat waktu seperti biasa, dua puluh tiga menit. Sisa perjalanan menuju Halimun tinggal sebelas menit lagi. Gue menatap keluar jendela dan melihat pemandangan yang sama sKiap hari: puluhan orang bergegas naik atau turun dari kereta. Stasiun Bandung berdinding logam mengilap dengan lantai keramik berwama abu-abu. Deretan pintu geser transparan menghubungkan peron dengan ruangan lainnya, lalu ada satu pintu geser lagi yang membatasi area kereta luar kota dan dalam kota. Stasiun Bandung terdiri dari dua lantai di atas dan satu lantai di bawah tanah. Kereta yang kami naiki berada di lantai dua, bagus jika kita mau sedikit melihat-lihat pemandangan. 

Sedikit catatan, Bandung, seperti halnya kota Tidar, sekarang dinaungi kubah raksasa setelah dulu sempat nyaris rata karena letusan gunung Tangkuban. Perahu, yang siapa sangka gunung itu bakal meletus setelah berabad-abad hiatus. Benar-benar kejutan yang mengerikan. Sekarang setelah renovasi selama dua dekade Bandung jadi kota metropolitan terbesar setelah Halimun. Mungkin bakal ada yang bertanya-tanya, terus ke mana larinya Jakarta? Yah, bisa dibilang nasibnya kelam. Gara-gara perrnukaan laut yang semakin tinggi, dan juga penurunan permukaan tanah, sebagian wilayah pesisirnya tenggelam. Selain itu jumlah penduduknya yang super padat nggak mampu diimbangi dengan ketersediaan air tanah yang terus menipis. Ditambah dengan kenaikan suhu rata-rata dan polusi yang semakin pekat, serta sisa-sisa bencana banjir besar, bendungan laut jebol sampai gempa bumi yang pernah mampir ke Jakarta, semakin mantap deh menderitanya kalau tinggal di sana. 


Pemerintah dibantu pihak swasta lebih memilih membangun ibukota baru di Halimun dan kota-kota baru lainnya yang lebih kecil, lengkap dengan kubah raksasa untuk melindungi kota dari sengatan sinar matahari yang kian menyengat Dengan banyaknya gedung pencakar langit di Jakarta nggak mungkin membangun kubah di sana, sehingga begitulah nasibnya sekarang. Terabaikan, dan mulai ditinggalkan sebagian penduduknya. Mereka berusaha pindah ke kota-kota modern berkubah yang lebih nyaman dan sehat. Problemnya adalah tinggal di kota-kota baru itu mahal. Untungnya di kota gue, Tidar, biaya hidupnya sedikit lebih murah. Kami sekeluarga beruntung bisa tinggal di Tidar, dan semoga bisa tetap tinggal di sana. 

Pemandangan kota Bandung sudah tidak bisa dilihat lagi begitu kereta berjalan cepat. River sudah merapikan tasnya dan sekarang bersandar dengan santai. Namun kegelisahannya masih terlihat dari cara kakinya bergoyang-goyang, Gue rasa sebenarnya dia memang butuh suporter, tapi malu bilangnya. 

"Nanti gue tonton deh," kata gue. 'Tunggu aja di stadium, kita pulang bareng." 

River menoleh. "Gak usah. Bang Ryo kan mesti kerja." 

"Nanti bisa pulang awal. Mggap aja gue pengganti Rindy." 

"Nindy." 

lya, Cindy." 

River mengerang. Gue ketawa. Sebetulnya gue tahu nama pacarnya, tapi biasalah, gue senang ngerjain River seperti dia juga senang ngerjain gue. Nggak bakal bertahan lama sih, gue mesti nyari bahan keisengan lain karena topik ini hanya akan berlaku sampai alfabet habis, atau gue bosan, atau Nindy mengganti nama. 

langan bongkar tas lagi," cegah gue saat tangan River mulai merogoh-rogoh ke dalam tas, "kita hampir nyampe." 

"Cuman mau ambil ini," jawab Itrver, menjepit sebuah earpiece dengan jempol dan telunjuk, lalu memasangnya di telinga kanannya. ""Mau dengar berita sebentar." 

'Berita' yang dimaksud River adalah kabar dari komunitasnya, Bumi Hijau, organisasi nirlaba yang fokus pada isu-isu lingkungan hidup. libu River dulunya juga aktivis di sana, jadi gue cukup kenal. Yang bikin gue rada khawatir adalah organisasi itu sekarang kelihatan berbeda. Kayaknya beberapa anggotanya memutuskan bahwa cara damai melalui negosiasi dan persuasi sudah nggak mempan lagi dan mulai menggunakan kekerasan agar pemerintah mau mendengarkan aspirasi mereka. Tiga hari yang lalu ada insiden di Kementerian Lingkungan Hidup saat mereka menerobos masuk ke dalam gedung. Kejadian itu berakhir ricuh dan beberapa orang termasuk staf Kementerian terpaksa dibawa ke rumah sakit. Gue sih maunya River jangan aktif dulu di sana, biar nggak sampai terlibat kasus. Tapi nggak tahulah, meskipun insiden ini jadi berita besar dan mencoreng nama baik Bumi Hijau, tetap nggak membuat River mau mundur dulu dari organisasi. Mungkin karena Nindy juga aktif di sana. 

"Hah, payah. Menara pemancar error lagi kayaknya nih. Gak ada suara apa pun." River melepas kembali earpiece-nya dan berkata dengan serius, "Mesti cepetan diperbaiki. Kalau gue menang turnamen, hadiahnya bisa dipakai buat perbaiki menara." 

"Atau untuk keperluan lain: balas gue cepat "Rw, gue udah pemah bilang ya, bukannya gue keberatan lo ikut Bumi Hijau, nggak ada masalah selama kalian nggak radikal. Tapi ati-ati. Lagian, kalau mau donasi, mending pilih prioritas lain yang lebih penting." Gue sengaja menekankan di bagian 'nggak radikals supaya River tahu sampai sejauh mana gue bakal mendukungnya. 

River terdiam dan hanya menjawab pendek, "Gue tahu, Bang." 

Kami tidak melanjutkan pembicaraan karena kereta sudah tiba di pemberhentian terakhir, Stasiun Utama Halimun. Gue berjalan menuju pintu dan River mengekori gue keluar dari kereta. Langkah-langkah kami teredam keramaian stasiun kereta terbesar di Indonesia ini. Ada banyak orang-orang seperti kami, yang tinggal di kota-kota sepanjang pulau Jawa, tetapi berkegiatan sehari-hari di Halimun. Sebagian besar bekerja, tentu saja, terlihat dari penampilan mereka yang rapi dan barang yang mereka bawa. Stasiun Halimun memiliki lima lantai untuk puluhan peron dengan rute berbeda. Java Express yang kami tumpangi termasuk jalur luar kota yang relnya berada di lantai kedua. Gue menunjuk ke arah lift, sementara River mengangguk dan membelokkan langkahnya ke sana. Kami memasuki salah satu dari sederetan lift yang tersedia dan tiba di lantai paling atas. 

"Oke," kata gue saat sampai di ujung jalan yang bercabang, "Sampai ketemu di Stadium. Semoga sukses!" 

River nyengir lebar sambil mengepalkan tangan."Pasti, Bang" 

"Semangaaat!" Gue membalas kepalan tangannya, sebelum berbalik dan mengantri bersama orang-orang yang akan naik ke rute Halimun Barat. Kereta dalam kota berinterior hampir sama dengan kereta luar kota seperti Java Express, tetapi jumlah gerbongnya hanya sekitar 3-4 gerbong dengan satu lantai. Kecepatannya juga lebih lambat. Namun armadanya lebih banyak dengan selang keberangkatan setiap lima menit. Gue duduk di tepi jendela. Lumayan, sekali lagi bisa melihat pemandangan sebentar. Terdengar suara mendesum saat pintu tertutup dan kereta beranjak meninggalkan stasiun. Sinar matahari yang sudah teredam oleh kubah sekecika mengalahkan cahaya lampu di dalam gerbong. Mata gue secara refleks memicing setelah sekian lama berada di dalam ruangan.