Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Indonesia 2045 - Chapter 2 ~ Cafe Nautica

 



Indonesia 2045 - Chapter 2 Cafe Nautica created by R.D. Villam & Klaudiani

Senin, 31 Juli 2045

Ryo

Pemandangan di luar jendela menarik perhatian gue. Kereta kini berada di ketinggian dua belas meter dari permukaan tanah. Relnya ditopang oleh jalur beton yang mirip jembatan selebar tiga meter, dan membentang jauh sampai kemudian menghilang di balik deretan gedung. Gue bisa melihat beberapa jalur rel lain di bawah, lalu jalanan mobil yang lengang. Meski kendaraan pribadi jarang digunakan, jalan-jalan di Halimun tetap dibuat dan dirawat sebaik mungkin. Hari ini hanya ada beberapa mobil yang gue lihat. Ada satu atau dua bus. juga satu kereta lintas kota, tetapi pengguna jalan paling banyak tetap para pejalan kaki, diikuti oleh sepeda. Pilihan yang bagus. Jalan-jalan Halimun yang dinaungi pepohonan memang nyaman buat dilewati.

Pengumuman pemberhentian gue terdengar. Gue beranjak menuju bagian belakang gerbong. Begitu pintu membuka gue melangkah keluar. Stasiun Blok 3 terletak di samping taman layang, tanpa dibatasi oleh dinding. Di tepi kiri dan kanannya berderet kursi tunggu dengan naungan kain kanvas berwarna hijau gelap yang menyambung sampai ke bagian pemindaian dan pintu keluar. Stasiun ini sebenarnya menyambung ke skyway yang melintasi jalan raya-semacam jalur untuk pejalan kaki yang terletak jauh di atas jalan dan menjadi penghubung antar gedung-tetapi gue memilih menuruni tangga dan berjalan di trotoar. Smartwotch gue menunjukkan pukul 07.04. Masih ada waktu buat sarapan, jadi gue cepat-cepat pergi menuju kafe yang hampir selalu gue kunjungi tiap pagi.

Rimbun pepohonan yang bergerumbul di tepi jalan membuat udara pagi segar seperti biasanya. Matahari tidak terasa terik berkat kubah raksasa berbentuk setengah bola yang menutupi kota Halimun. Kafe yang gue tuju, Nautica, tidak jauh. Rasanya dari jarak sepuluh meter sudah tercium harum roti tuna yang baru keluar dari oven, dan juga aroma kopi kesukaan gue. Mantap harumnya, dan dagingnya itu benar-benar daging betulan ya, bukan imitasi seperti banyak disajikan di restoran lain. Itulah kenapa ini menjadi tempat makan favorit gue.

Gue memutar pegangan pintu berbentuk roda kemudi kapal yang dipelitur mengkilap. Kata pemiliknya itu bekas roda kemudi kapal asli. Gue kurang yakin, tapi yang jelas memang membuat kafe ini terlihat menarik dari luar. Nautica tidak terlalu ramai saat gue masuk. Beberapa meja di samping jendela sudah terisi. Para pengunjung rata-rata punya kesamaan: mereka pekerja asal luar kota yang kayaknya nggak punya waktu buat sarapan di rumah. Kesamaan lainnya-walau ini sudah biasa di mana-mana-mereka selalu duduk dengan kepala tertunduk, sibuk dengan makanan atau godget masing-masing. Sebenernya gue sama aja sih, suka nggak peduli dengan keadaan di sekitar gue, tetapi ada satu hal dalam beberapa hari terakhir di mana gue melihat sesuatu yang berbeda di sini. Yang bikin gue tertarik untuk tahu lebih jauh, dan jujur, bikin gue pengen cepet-cepet datang.

Saat gue tiba di meja bar, sudah ada dua orang yang duduk di deretan kursi tinggi. Seorang bapak, dan seorang cewek berambut pendek sebahu. Si bapak mengenakan jas rapi warna hitam, terlihat seperti baru berumur akhir 30-an. Tapi begitulah, di jaman sekarang dengan segala kecanggihan ilmu kedokteran seseorang bisa kelihatan lebih muda dua puluh tahun. Sementara si cewek mengenakan jas blazer berwarna cokelat, kulitnya putih, matanya agak sipit-kemungkinan dia dari etnis Jepang, lionghoa atau Korea-dan dia hampir selalu tersenyum. Dialah sesuatu yang membuat gue tertarik itu. Eh, tapi bukan penampilannya yang bikin gue tertarik ya, melainkan tingkah lakunya, yang selalu ceria dan ramah. Hmm

oke, gue tertarik juga sih sama penampilannya. Haha.

Seingat gue cewek itu muncul pertama kali di kafe ini dua minggu yang lalu. Dulu awalnya gue lihat dia sama aja kayak yang lain; menempati salah satu meja di tengah ruangan dan terlihat sangat serius dengan donatnya. Namun belakangan dia milih pindah ke meja bar yang ada di depan dan selalu mengajak ngobrol orang-orang lain di dekatnya, tak hanya Simon si barista, tetapi juga pelanggan lain. Dia juga sering menyapa pengunjung lainnya yang selalu sibuk dengan godget mereka, dan dengan keceriaannya mampu membuat mereka lepas sementara dari dunia masing-masing. Dia bikin gue takjub, karena hanya dalam waktu singkat dia seperti sudah mampu mengenal baik semua orang. Jauh lebih baik jika dibanding gue yang sudah hampir setahun ke tempat ini.

Sayangnya gue belum pernah ngobrol sama dia. Dia pernah beberapa kali melempar senyum ke gue saat berpapasan, dan biasanya gue selalu terlambat membalas. Waktu gue tersenyum balik dia sudah berpaling atau berjalan pergi. Gue emang bego kali ya, bukan sekadar gugup? Atau mungkin memang kurang menarik buat diajak ngobrol dibanding yang lain?

Cewek itu sekarang lagi asyik ngobrol dengan si bapak, sementara Simon mendengarkan. Gue menarik salah satu kursi di deretan meja bar, di samping bapak tua itu. Sambil memesan kopi dan roti tuna kepada Simon, gue ikut mendengar potongan pembicaraan mereka.

"Pengobatan tradisional emang udah jarang dipake, tapi yang ini manjur kolc Bapak tinggal olesin di tempat yang pegal dan pijat sekitar setengah jam, terus langsung tidur aja." Cewek itu memberi si bapak sebuah botol berwarna coklat gelap. Masih bersegel. Hm cewek ini bukan tukang jualan obat kan?

Lelaki separuh baya itu menerima botol tersebut dengan ekspresi antara senang dan terharu. "Wah, terima kasih ya, Dik. Sampe repot-repot nyariin obat."

"Nggak repot, Pak. Malah aku seneng nyari obat itu. Kebetulan aku tahu tempat yang ngejualnya. Pas liat ya langsung beli. Biar Bapak cepet sembuh."

"Harganya berapa? Biar saya ganti."

"Nggak usah." Cewek itu tertawa lebar. "Anggap aja hadiah dari temen." Dia kemudian berdiri. "Aku jalan dulu, Pak. Ditungguin di kantor. Simon, sampai besok. Bubur ayamnya mantap, seperti biasa. Daah."

Dia melihat ke arah gue dan tersenyum sambil berjalan. Kali ini gue buruburu membalas senyumannya sebelum terlambat. Berhasil! Lega rasanya. Hahaha.

Tak lama setelah cewek itu pergi Simon memberikan roti tuna dan kopi pesanan gue. Si bapak tua tampak masih memperhatikan botol yang tadi diberikan padanya.

"Obat apa, Pak?" tanya gue membuka pembicaraan.

"Oh, ini minggu lalu saya sempet cerita ke dia, bahu saya sering sakit.

Terus dia ngasih ini."

Gue membaca labelnya: Minyak Walikukun. Waduh, namanya belum

pernah denger.

"Ada hubungannya sama Wali Songo?" Gue coba sedikit bercanda, mungkin garing."Emang bagus, Pak?"

"Katanya sih bagus. Campuran rempah sama bahan lain yang bikin hangat. Ya nantilah saya coba. Dia anaknya baik, jadi saya percaya."

"Kalau saya punya anak cowok, pasti saya kenalin ke dia. Biar saya dapat mantu yang baik. Sama cantik juga." Bapak itu tertawa.

Sepertinya begitu. Gue mengangguk-angguk masih sambil mengunyah.

"Kalau saya punya anak cowok, pasti saya kenalin ke dia. Biar saya dapat mantu yang baik. Sama cantik juga." Bapak itu tertawa.

Lha? Kok jadi ke sana? Gue pun ikut ketawa, yang kayaknya garing lagi.

Tak lama gue selesai makan. Gue mengecek jam. Pukul 7.40. Sebenarnya masih ada waktu, tetapi berhubung cewek itu sudah gak ada, ngapain juga lama-lama di sini. lya, kan? Setelah membayar dan mengucapkan terima kasih ke Simon gue beranjak pergi.

Kantor gue, BIT Corp, jaraknya lima menit jalan kaki dari Nautica. Tinggal jalan lagi seratus meter ke perempatan, belok terus menyeberangi jalan, sampai deh di gerbang utama. Si Hitam, temen-temen kantor gue biasa nyebut, atau Si Hitam Gendut, kalau mau lebih lengkap, lantaran bangunannya-yang memang gede banget itu-dinding-dindingnya terbuat dari granit hitam dan kaca tebal berfilter gelap. Huruf BIT Corp segede gaban dipajang di tengah-tengah taman depan, katanya sih supaya orangorang yang nyari alamat jadi gampang nemunya. Alasan doang menurut gue, gak mungkin orang gak tahu Bright Indonesia Technology Corporation. Ini perusahaan multinasional yang gak cuma ngetop di Indonesia, tapi juga di dunia. Kalau gue bilang ya itu demi ego para bos aja. Semakin gede nama perusahaan dipampang, maka akan semakin dianggap hebat dan keren.

Jika diperhatikan dari jauh, dibanding bangunan-bangunan lain di sekitarnya kantor gue tergolong pendek. Namun ada satu hal yang jarang diketahui orang, ini salah satu kantor paling luas di Halimun. Jumlah lantai ke atas memang cuma dua puluh, tapi jumlah lantai yang ada di bawah tanah? Wah Konon katanya di bawah justru jauh lebih luas. Bahkan ada yang bilang jauh di bawah sana ada hanggar buat pesawat tempur. Gue gak tahu pasti sih, akses staf setingkat gue cuma bisa sampai lantai keempat di bawah tanah. Selebihnya, cuma bos-bos, arsitek, kontraktor, tukang bangunan, dan Tuhan yang tahu. Hmm banyak juga ya yang tahu. Hahaha.

Nah, jika seandainya kita bawa mobil, kita tinggal masuk aja sampai di depan pintu, tunggu sampai kita dan mobil kita selesai dipindai, baru masuk. Tapi nanti keluarnya berarti harus bareng juga ya, gak bisa mobilnya dibawa orang lain, kecuali lapor dulu ke bagian administrasi dan percaya deh, itu ribet urusannya. Kebetulan jarang ada orang yang bawa mobil sendiri ke BIT Corp, kecuali bos dan tamu penting, jadi pintu untuk pejalan kaki dibuat banyak. Ya kayak gue gini lah, jalan kaki; lebih sehat dan merakyat.

Bentuk pintu-pintu untuk pejalan kaki itu sendiri mirip ruangan telepon koin jaman dulu. Di dalam pintu ada satu layar di dinding sebelah kanan. Setelah melewati antrian gue masuk ke dalam ruangan kotak itu melalui pintu geser tembus pandang. Gue dipindai, termasuk semua bawaan dan barang yang melekat di tubuh ikut dipindai. Sesosok hologram wanita berambut pendek muncul di samping kiri. Bajunya rapi, pakai blazer seperti orang kantoran biasa.

"Selamat pagi, Bapak Satryo. Bagaimana kondisi Bapak hari ini?"

"Masih manggil 'Bapak' juga," jawab gue setengah ngedumel. "Eh, Clara, bisa pake panggilan yang lain nggak?" Percuma sih. Sudah setahun permintaan gue dia tolak.

Si cewek hologram tersenyum. Maniiis banget. ''Sebaiknya Bapak banyak minum vitamin, hasil pemindaian mendeteksi ada sedikit virus flu di tubuh Bapak."

"Panggil 'Mas' deh. Atau Rkange. Atau ...'Sayangs mungkin?"

Clara tertegun sebentar. Lalu ia menjawab, tapi kini gaya bicaranya berubah, "Kasian deh yang ngarep cewek hologram. Sana cari pacar beneran!"

Gue mangap dengernya. Kok dia bisa nyolot? Wah, ini pasti kerjaan si Cherry!

Sebelum gue kepikiran mau jawab apa, Clara sudah balik lagi ke gaya bicaranya yang biasa. "Silakan masuk, Bapak Satryo."

Pintu geser di depan terbuka dan sosok Clara kembali menghilang. Hmm. Mungkin perlu dipikirkan apakah lebih efisien kalau Clara selalu ada di ruang pemindaian di dalam gedung, gak cuma di gerbang depan kayak gini. Bukan kerjaan gue sih, tapi mungkin nanti bisa gue usulin.

Gue menyusuri selasar menuju pusat gedung BIT Corp bersama lusinan karyawan lainnya. Ada yang gue kenal, lebih banyak yang enggak. Oh iya, gedung kantor gue bagian tengahnya bolong. Bagian tengah itu diisi taman yang lumayan luas, plus kolam ikan dan macam-macam tumbuhan, dan di enam sisi yang saling berseberangan terdapat deretan lift. Gue jalan ke salah satu sisi itu untuk naik ke ruangan gue yang ada di lantai sebelas, dan tahu-tahu ketemu dengan orang yang pengen gue tanyain.

"Cherry!"

"Eh Ryo. Masih hidup?" Cherry menjawab dengan gayanya yang kadang nyelekit. Dia cewek yang umurnya sedikit di atas gue. Tubuhnya tinggi kurus dengan kulit putih, gak pernah pakai moke up dan rambutnya selalu diikat ke belakang di tengkuk. Dandanannya simpel. Hari ini dia pakai kaus turtieneck abu-abu dan jeans sewarna, dengan sepatu olahraga. Dia memegang gelas kertas bertutup yang sepertinya berisi kopi. Secara otomatis kami berjalan bersisian.

"Santai nih?" Gue ketawa sambil melihat Cherry menyeruput isi gelasnya dengan sedotan."Ngantor atau piknik?"

"Maksud lo?"

"Dandan dikit, napa? Biar cantikan dikit." Gue becanda pastinya. Dia cantik kok. Dan sebenarnya gue gak peduli soal dandan atau urusan cewek lainnya, tapi berhubung gue udah lumayan deket sama Cherry, jadinya sering becanda.

"Ngapain ribet? Office is my playground," jawab Cherry sambil mengangkat bahu.

Halah, gaya betul dia. Tapi iya sih, mengingat dedikasinya yang selalu seratus persen pada pekerjaannya, gue nggak bisa bantah. Sebagai salah satu senior Cherry tergolong karyawan teladan. Dan meskipun terkesan judes, dasarnya dia baik. Sampai tiga bulan yang lalu dia satu tim dengan gue, sebelum kami berdua lalu dikasih penugasan yang berbeda. Sepertinya dia juga ikut di proyek yang gue kerjain sekarang. Entah di bagian apanya.

Kami sampai di area lift. Cherry dan gue masuk ke lift paling ujung, yang khusus untuk naik ke lantai sembilan ke atas. Kebetulan penumpangnya cuma gue dan dia.

"Gimana proyek?" tanya gue sambil menekan tombol angka sembilan dan sebelas, lalu bersandar ke dinding lift yang terbuat dari kaca.

"Proyek siapa? Elo? Mana gue tahu."

Haha, iya sih. Prosedur dasar kerahasiaan dari perusahaan. Aturannya adalah setiap anggota tim harus menjaga rahasia, nggak boleh membicarakan soal proyek dengan siapa pun. Bahkan setiap anggota diberi ruangan kerja terpisah. Tujuannya untuk meminimalisir kebocoran. Seandainya nanti ada yang bocor, perusahaan bisa langsung mendeteksi siapa yang bersalah. Gue tahu betul aturannya. Harusnya gue juga nggak kepo sih, tapi ya gitu deh, biasalah tanya-tanya teman satu proyek. Kadangkadang berguna kok penasaran seperti ini.

Jadi mumpung masih berdua, gue tanya lagi, "Barbie & Ken. Lo kebagian ngerjain apa?"

"Dandanin Barbie. Buat malam mingguan sama lo, daripada lo ngerayu Clara lagi," jawab Cherry sambil ketawa puas. Sial. Belon lima menit kejadian tadi, dia udah tahu. Gue terpaksa ketawa juga.

"Itu si Clara kenapa bisa jawab begitu?" kata gue. "Kapan programnya ditambah? 

"Udah lama. Pengen tahu siapa aja karyawan BIT abnormal yang kepincut sama dia."

"Oh. Sejauh ini berapa orang?"

"Satu," jawab Cherry. Pintu lift membuka di lantai sembilan dan dia keluar. Tepat saat pintu hendak menutup lagi, dia berbalik sambil ketawa puas. "Cari pacar, Ryo. Atau psikiater!"