Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Indonesia 2045 - Chapter 3 ~ Project Tara

 


Indonesia 2045 - Chapter 3 Rroject Tara created by R.D. Villam & Klaudiani

Senin, 31 Juli 2045

Ryo

Gue nyengir sendirian di lift sementara suara tawa Cherry masih terngiangngiang di kuping. Sial. Mudah-mudahan hal ini nggak sampe jadi gosip yang menyebar di kantor. Tapi, jika Cherry langsung tahu 'jebakan' yang dipasangnya berhasil, berarti dia terkoneksi langsung dengan Clara, dan ini juga berarti dia masih updote dengan program lamanya. Meskipun agak gondok gue senang juga sih Cherry berhasil memprogram Clara untuk menjawab pertanyaan konyol gue. Berarti kemungkinan besar memang dia yang ditunjuk sebagai Al Speciol Progrommer untuk proyek Barbie & Ken, dan kalau perkiraan gue ini benar, gue bisa lebih leluasa mendesain karakter bikinan gue karena Cherry pasti bakalan bisa mengeksekusi programnya dengan baik. Gue jadi tambah semangat nih.

Gue sampai di ruangan kerja gue, yang terletak di salah satu pojok gedung sehingga bentuknya nggak simetris. Sisi dinding yang terdapat pintu masuk lebarnya tiga meter, sementara sisi seberangnya enam meter. Sisi di seberang ruangan itu hampir seluruhnya berupa kaca tebal dan menghadap ke arah kota. Dari sana gue bisa melihat-lihat pemandangan seandainya ide gue lagi mentok. Desain ruangannya minimalis. Ada satu meja kerja beserta kursinya di ujung kiri, tiga buah kursi sofa di sebelah kanan dengan meja kecil di tengah-tengahnya buat ngobrol kalau ada tamu. Lalu ada dinding kosong melompong di sebelah kiri dan kanan. Kepikiran sih buat menaruh barang-barang kecil di atas meja, supaya jadi kelihatan lebih rame, tapi nanti ajalah. Sejauh ini yang ada di atas meja hanya sebingkai foto, gambar gue waktu kecil bersama kedua almarhum orang tua gue saat kami jalan-jalan ke Gunung Bromo. Sampai sekarang gue belum menemukan barang lain yang sebanding nilainya dengan foto gue itu.

Begitu duduk gue langsung memanggil Sandra, sosok hologram asisten pribadi gue. Awalnya dulu Cherry kasih program yang sama dengan Clara untuk komputer gue, tapi gue kemudian mengutak-atik sedikit Artificiol intelligence-nya, sehingga jadilah Sandra.

Sandra muncul di tengah ruangan memakai kebaya dan bersanggul kecil, hasil eksperimen gue kemarin sebelum pulang kantor. Haha cocok nih untuk acara tujuh belasan atau kartinian, kalau gue bikin juga karakter dari daerah-daerah lain dan mereka berdiri berjejer.

"Pagi, Ryo.

"Pagi, Sandra. Gue mau lihat semua karakter untuk proyek Barbie & Ken."

"Segera."

Sesaat kemudian sepanjang dinding yang kini berfungsi sebagai layar muncul berderet semua karakter yang sudah selesai gue buat untuk prototype Barbie & Ken. Ada Mia, gadis kecil dengan rambut diikat di kanankiri kepalanya, cocok untuk teman bermain anak-anak. Lalu Randy si pelayan yang selalu tersenyum ramah. Lily yang gesit didesain sebagai asisten rumah tangga multifungsi. Bruno bertubuh besar dan kekar, buat penjaga keamanan atau bodyguord. Natasha untuk pendamping mereka yang berkebutuhan khusus. Davis diprogram untuk edukasi berbagai bidang, cocok untuk homeschooling. Dan Tara the specicd one, gue baru bikin desain skill-nya tapi masih belum selesai buat desain karakternya. Mungkin karena sampai sekarang gue belum puas dengan karakter yang satu ini.

Sambil memandangi wajah Tara gue termenung. Barbie & Ken adalah nama proyek yang sedang gue kerjakan saat ini. Itu adalah nama sandi yang dipakai oleh staf-staf selevel gue. Bagi orang-orang di atas gue, dan mungkin juga pihak eksternal yang gue nggak tahu siapa aja, nama sandi yang dipakai jelas berbeda dan gue nggak mungkin tahu. Informasi tentang proyek ini juga hanya sebatas yang gue tahu. Intinya, sejak beberapa tahun yang lalu BIT Corp telah mengembangkan proyek android atau robot mirip manusia, yang nantinya bisa berfungsi seperti karakter-karakter yang gue sebut di atas tadi. Dan jika gue bilang mirip, berarti memang benar-benar mirip manusia baik dari segi penampilan, tingkah laku maupun kecerdasan, nggak seperti robot-robot kuno dan kaku yang sempat beredar di pasaran. Atau malah lebih ya? Mereka bisa jadi lebih cantik, lebih kuat, lebih baik atau lebih pintar.

Prototype android ini sekarang sudah memasuki generasi ketiga. Ketika masuk BIT Corp setahun yang lalu gue langsung bergabung ke Divisi Research & Development dan ikut dalam sebuah tim kecil berisi sembilan orang untuk menyusun keseluruhan desain prototype generasi ketiga. Cherry termasuk salah satu rekan gue di Tim Sembilan. Kemudian tiga bulan yang lalu gue diberi tugas khusus buat mendesain karakternya. Jadilah gue melakukan riset, membuat program, mendesain penampilan, sampai menyelaraskan kecerdasan buatan setiap karakter. Untuk setiap karakter gue diberikan beberapa contoh model yang bisa dipakai, yang umumnya berasal dari karakter-karakter figur publik yang sudah dikenal dan disukai banyak orang. Sejauh ini gue puas dengan karakter-karakter yang gue bikin, kecuali satu, Tara, yang mungkin justru paling penting dalam proyek ini.

Gue memulai sekali lagi tahap pengetesan karakter. Tahap pengetesan final sudah pernah gue lakukan, jadi kali ini gue hanya mengulang perintah-perintah dasar seperti 'senyum', iduduks dan sejenisnya, lalu menilai jawaban mereka jika gue memberi pertanyaan umum seperti 'bagaimana kabar hari ini7, untuk mengecek konsistensi sekaligus mendeteksi jika ada kesalahan program. Dan inilah yang selalu bikin gue gatel. Bahkan dalam hal yang mendasar seperti ini sosok Tara tetap kelihatan nggak pas di mata gue.

Gila, padahal waktunya presentasi tinggal seminggu lagi, masak mesti dirombak? Apa nanti mendingan gue tampilin aja semua tampang dan kepribadian yang pernah gue bikin? Bisa sih, biar saja para bos nanti yang memutuskan mana yang paling cocok buat mereka. Tapi berhubung gue yang dikasih kebebasan buat mendesain karakter yang terbaik, ya nggak ada salahnya kan gue bikin yang paling cocok buat gue?

"Simpan semua kecuali Tara," kata gue ke Sandra.

Karakter-karakter itu menghilang dari dinding, yang tersisa hanya Tara. Gue sekarang nyadar kalo gue tetap nggak sreg sama tampangnya. Karakter Tara yang sebelumnya gue pakai tampangnya manis, sesuai wajah seorang artis populer. Gue kurang cocok, terus gue ganti lagi beberapa kali hingga akhirnya jadi tampang yang sekarang. Yang terakhir ini cantik sih, banget, tetapi setelah gue perhatikan lebih dalam, rasanya kok terlalu kaku ya, bahkan mendekati dingin. Cocoknya jadi Bruno versi cewek nih. Hahaha. Tapi Tara kan nggak didesain untuk jadi petugas keamanan. Dia harusnya jadi teman bermain dan pasangan hidup yang sempurna.

Enaknya diubah jadi gimana ya? Atau mungkin ... hmm ...

Tiba-tiba gue kepikiran seseorang.

"Ubah rambutnya jadi hitam. Mata sipit. Mmm ... terlalu, perbesar sedikit. Ya, begitu." Gue memandangi wajah Tara yang kini mulai berubah, lalu melanjutkan memberi perintah ke Sandra, "Kulit lebih putih. Okay ... Bibir penuh, tulang pipi tinggi. Sedikit lagi ya. Badan ramping, tinggi satu meter tujuh puluh senti."

Gue terus kasih instruksi, sampai sedetil-detilnya, hingga sosok Tara kini benar-benar berubah. Kata orang gue termasuk perfeksionis. Dan itulah yang terjadi sekarang. Selama seharian gue terus berusaha memperbaiki penampilan Tara agar sosoknya benar-benar sesuai dengan yang tercetak dalam ingatan fotografis gue. Setiap ukuran, setiap sudut, setiap lekuk, setiap warna, semuanya harus sesuai. Kalo enggak, gue bakalan terus gatel.

Selesai mengutak-atik penampilan tisiknya, gue kemudian lanjut mengubah setiap parameter kepribadiannya. Sejauh yang bisa gue bayangkan seharusnya dia orangnya terbuka, ceria, apa adanya, ramah, penuh empati. Apa lagi? Minat? Hmm, apa ya minatnya? Cuma doyan bubur ayam yang gue tahu. Latar belakang? Belum tahu. Tapi apakah itu perlu?

Gue sampai lupa waktu. Ketika tersadar, perut gue langsung demo. Gue cek ternyata sudah hampir jam dua siang. Wuah, bener-bener deh. Gue cepet-cepet sholat dulu, terus bilang ke Sandra agar segera dikirimkan nasi goreng dan teh botol.

Gak sampai lima menit pintu kecil pada dinding di dekat meja bergeser terbuka. Delivery services o lo kantor. Gue meraih makanan gue, dan makan, sambil memandangi sosok baru Tara yang tengah tersenyum. Manis sih, tapi rasanya kok masih ada yang kurang. Selama beberapa saat gue termenung-untung udah selesai makan tuh, kalau nggak pasti bakalan ada nasi yang nyangkut.

Reason. Tara tersenyum tentu harus ada alasannya. Nggak bisa cuma dibikin sekadar tersenyum, karena ujung-ujungnya yang muncul pasti hanya senyuman palsu.

Payah. Masak sampai sekarang gue masih terus mengabaikan hal-hal sepenting ini? Sebagus apa pun gue bikin penampilan robot-robot ini, jika gue belum bisa ngasih alasan yang jelas kenapa mereka bertindak atau bertingkah laku, maka selamanya mereka bakalan tetap jadi robot yang kaku dan nggak manusiawi. Yang berarti, pada dasarnya, proyek ini bisa dibilang gagal. Oke, untuk karakter-karakter lainnya yang punya fungsi spesifik dan hanya menjalankan perintah hal ini nggak terlalu dibutuhkan, tapi khusus buat Tara, ini seratus persen salah. Bukan sepenuhnya tanggung jawab gue sih, tapi tetap aja kepikiran. Gue seharusnya bisa melakukan lebih dari ini. Seharusnya gue bisa bikin Tara yang lebih baik daripada ini.

Beep beep. Suara panggilan telepon terdengar.

Gue melihat nama yang tercantum pada layar di dinding. Anton. Bos gue. Cepat-cepat gue meminta Sandra menyimpan sosok Tara dan menghilangkannya dari layar.

"Selamat siang, Pak," kata gue begitu wajah Anton muncul. Dia berumur sekitar tiga puluh tahunan dengan rambut imitasi yang tersisir rapi. Gue dulu cukup akrab dengan dia, tapi belakangan jarang ngobrol dan kalaupun ngobrol selalu hanya soal pekerjaan.

"Selamat siang, Ryo. Udah ketemu yang kamu cari?"

"Hah? Maksud Bapak?"

Tara."Anton tertawa pelan. "Udah ketemu yang paling cocok buat kamu?"

"Oh." Sial, apa dia mengamati gue entah dari mana? "Hmm sudah, Pak. Saya sudah bikin lima pilihan buat Tara. Dan masing-masing tiga buat karakter lainnya. Tinggal dilihat, dan dipilih nanti."

"Baik, kita lihat nanti. Nah untuk presentasinya, ada perubahan sedikit. Jadwalnya dimajukan jadi hari Rabu jam sepuluh pagi di Ruangan Opal. Kamu gak masalah?"

Hah? Jadwalnya dimajuin jadi lusa? Waduh.

"Saya gak masalah, Pak," jawab gue berusaha tampak seyakin mungkin.

"Jangan sampai terlambat. Ingat, 17 Agustus sudah dekat. You con do it."

"Iya, Pak." Gue mengangguk. "Semua udah beres kok. Tinggal ngecekngecek aja."

"Good. Ada yang lainnya?"

"Mmm gak ada sih, Pak. Oh, ada," tiba-tiba gue teringat sesuatu. "Maaf, saya ijin mau pulang cepat sore ini. Jam tiga. Soalnya mesti jemput adik saya."

"Jam tiga?... Okoy, no problem. Is there o problem?"

"No, Sir. Just o fomily thing."

"Kalau begitu, sampai ketemu besok."

'Terima kasih, Pak."

Wajah si bos menghilang dari layar. Pelan-pelan gue bersandar di kursi.

Oke, gue sudah bilang kalau gue bakalan siap buat presentasi dua hari lagi. Memang gue masih sedikit kurang puas dengan hasilnya, dan mungkin bakal gue sampaikan juga nanti, biar mereka bisa memutuskan. Tapi secara umum mestinya nggak ada masalah. Kalaupun ada yang masih mengganjal, soal Tara tadi, mungkin bisa gue beresin besok.

Ya, mestinya bisa, pikir gue sambil menerawang.