Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Indonesia 2045 - Chapter 4 ~ Master of Oblivion

 

Indonesia 2045 - Chapter 4 Master of Oblivion created by R.D. Villam & Klaudiani

Senin, 31 Juli 2045

Ryo

"Redang, Om? Mumpung belum masuk stadium, kalo udah di dalam nanti susah keluar."
Gue cuma melihat barang yang disodorkan sama si mas-mas tukang jualan, yang umurnya mungkin hanya sedikit lebih tua daripada gue. Nggak yakin bakalan butuh pedang di dalam stadium. Emangnya mau tawuran? Lagian kalaupun ada tawuran emang gue bisa selamat pakai pedang bohongan?

Mungkin karena gue kelihatan nggak minat orang tadi menawarkan benda lain, kali ini gagang pedangnya. Seriously?

"Ini aja deh, Om. Lebih keren. Dijamin." Dia menekan tombol dan wuushh sinar laser sepanjang satu setengah meter memancar dari gagang tadi. Sinar doang sih, hahaha. Gak bakal bisa menyentuh apalagi memotong apa pun. Prinsip kerjanya kurang lebih mirip senter, teknologi lama, tapi kreativitasnya bikin lightsober boleh lah. Walaupun sederhana dan bukan sesuatu yang baru, mainan kayak gini selalu laku dijual di acara-acara semacam ini.

"Nggak, makasih," tolak gue. "Cuma mau jemput adik."

Akhirnya dia menyerah, cari pembeli baru, dan gue bisa bebas pergi, menyelinap di antara tenda-tenda dan kumpulan orang berkostum aneh yang memenuhi halaman stadium. Sudah hampir jam lima sore, tapi tempat ini masih ramai. River sempat bilang sih, turnamen Oblivion itu bagian dari acara gothering gamers tahunan, gue cuma nggak nyangka bakalan sebanyak ini orang yang datang. Pada pakai kostum pula! Sejak masuk ke gerbang stadium gue udah papasan dengan Hiroyuki dan Momoka dari Ninja Warrior, segerombolan cewek abg dari game Highschool Princess, Doraemon, Naruto, beberapa member Power Rangers entah seri yang mana, Gandalf putih, Gandalf abu-abu, serta tiga Darth Vader. Itu yang gue tahu, karena mereka memang tokoh-tokoh klasik yang tetap ngetop lantaran filmnya terus-menerus di-remoke. Sisanyajumlahnya ratusan-cuma mereka dan Tuhan yang tahu mereka lagi cosplay jadi siapa. Gue nggak terlalu ngikutin game-game yang baru soalnya.

Kelihatannya event cosplay itu sudah selesai, yang mungkin lokasi kegiatannya nggak jauh dari sini, jadi sekarang sebagian dari mereka berbondong-bondong menyerbu ke dalam. Setelah melewati deretan tenda penjualan merchandise akhirnya gue berhasil sampai di pintu utama stadium, yang antrean masuknya udah lumayan panjang. Agak penasaran sih sebenarnya, dengan stadium ini. Ini pertama kali gue datang dan ternyata bangunannya cuma satu lantai. Gede banget, tapi satu lantai apa bisa mengakomodir kegiatan massal seperti ini ya?

"Minggir, woy!"

Gue melipir tepat sebelum satu Superman wonnabe-yang melayang setengah meter di atas lantai-berusaha memotong antrean menuju pemindaian. Gue duga ada semacam alat pendorong di sepatunya supaya kostumnya terlihat agak realistis. Uhm realistis, tapi berbahaya. Si Superman berusaha masuk jalur antrean tapi malah menabrak Doraemon di depan gue, lalu kehilangan kendali alat pendorongnya dan menerobos antrean sebelah, kemudian masuk ke pintu darurat. Gue nggak yakin apa yang terjadi setelah itu, tapi dari suara-suara yang terdengar sepertinya dia bakal pulang dengan kepala benjol. Rasain dah. Tampil heboh tanpa peduli orang lain boleh aja, tapi yang tadi betul-betul keterlaluan. Untuk sesaat area antrean jadi ramai dengan komentar atau gerutuan orang-orang yang menyaksikan kejadian tadi.

"Err tolong?" ada suara dari arah lantai di depan gue. Doraemon yang tadi ditabrak Superman rupanya terguling dan gak bisa bangun lantaran terlalu gemuk. Mau nggak mau gue ketawa. Dibantu gue dan beberapa orang, akhirnya si Doraemon berhasil berdiri.

Terima kasih! Terima kasih!" kata Doraemon. Suara perempuan. Dari gayanya kayaknya sih masih belasan tahun. Doraemon itu melambaikan tangan ke gue dan orang-orang yang tadi membantunya sebelum ia masuk ruang pemindaian. Suasana jadi lebih ceria.

Giliran gue. Ruang pindai beres, gue buka pintu dan diserbu teriakan penonton kenceng banget. Waduh, ada apaan nih? Sampe serame gini? Gue berjalan di sebuah lorong besar yang cukup pendek-bareng banyak orang lain-yang berakhir di sebuah omphiteoter besar berbentuk oval. Kursi-kursi berderet di sepanjang tepinya jauh sampai ke dasar, yang cocoknya jadi lapangan bola tapi sekarang malah ditutupin panggung besar dengan penonton yang menyemut di sekitarnya. Gue nggak nyangka penggemar Oblivion bisa sebanyak ini! Gila! Gimana caranya ketemu River di lautan manusia kayak gini? Gue coba kontak dia via smortwotch. Nggak ada respon. Gue putuskan untuk turun sambil terus mengontak River.

Semakin ke bawah, semakin ramai orang dan semakin riuh sorak sorai di sekitar gue. Akhirnya gue sampai di lantai dasar dan tertahan, nggak bisa maju lagi. Tapi lumayan, panggung kelihatan lebih jelas sekarang. Di panggung itu ada dua orang duduk di kursi besar dengan visor terpasang, masing-masing di sisi kiri dan kanan panggung. Dua layar di kiri dan kanan di atas mereka menampilkan game dari sudut pandang kedua orang ini, sementara layar tengah yang jauh lebih besar memperlihatkan tampilan game dari sudut pandang penonton. Nama para finalis kayaknya tertulis di masing-masing layar tapi dari tempat gue berdiri nggak begitu jelas.

Gue pernah main Oblivion beberapa kali, dan sebenarnya lumayan suka. Pemain seolah ditarik ke dalam game dan berperan menjadi diri sendiritentunya ditambah skill dan tampilan tubuh yang bisa diatur sebelumnyakemudian menjalankan berbagai misi. Bisa mulOployer juga, kadang gue main bareng River dan Rain. Namun kalau melihat di panggung sekarang cuma ada dua orang, sedangkan anggota timnya sepertinya diatur komputer. Berdasarkan pengalaman gue saat main, Artificiol Intellegence untuk para anggota tim itu cukup bagus. Hampir mirip manusia. Mereka bisa beradaptasi dengan kebiasaan ployer dan juga musuhnya. Biasanya cuma para pemain yang sabar dan sangat berpengalaman yang bisa menebak gerakan-gerakan mereka.

Gue melihat pergerakan Pemain Kanan di layar tengah, di mana dia dan kelompoknya sedang berlari di gang sepi yang diapit rumah-rumah bergaya timur tengah, semua senjata siaga. Sementara itu di layar kiri berwarna hitam pekat. Aneh. Apa dia sudah mati? Nggak. Kalau mati tampilan layarnya nggak begitu.

"Goooo Aoraaaa!" riuh suara suporter menyemangati pemain yang sedang berlari tadi. Oke. Pemain Kanan ini namanya Aora—nama yang terkesan feminim padahal tampilan karakternya cowok gahar begitu. Si Aora ini rupanya sudah berhasil mendapatkan kristal dan sedang menuju titik akhir. Seruan penonton semakin keras.

Tiba-tiba ledakan kencang terjadi tepat di jalan yang sedang dilintasi Aora. Belum selesai, Aora sudah dihujani tembakan, bola api dan petir bertubitubi. Penonton terdiam, lalu ramai teriakan senang dari suporter lawan Aora. Gue lihat layar sebelah kiri sudah gak hitam lagi, sementara di layar tengah bermunculan tiga orang dari arah berbeda melancarkan serangan berbeda: panah api, petir, dan tembakan. Hasilnya dua teman Aora mati, satu lagi pincang, sementara Aora sendiri sudah terlibat pertarungan jarak dekat dengan

"River! Riveeerrr!"

Hah? Beneran nih? Gue merangsek ke depan untuk melihat layar kiri yang tadi terhalang dan akhirnya berhasil melihat nama Pemain IGri yang terpampang di sana.

River! Hahaha bocah itu betul-betul serius dengan sesumbarnya di kereta tadi!

"River! River!" Suporter River berteriak makin kencang.

Tapi pendukung lawannya nggak mau kalah. "Aoraaaaa!"

Entah apakah dukungan penonton ini terdengar oleh mereka berdua. Gue rasa sih enggak, suara dari luar mungkin malah dimatikan supaya mereka bisa konsentrasi penuh. Yang jelas gue lihat dua-duanya semakin mengganas. River menangkis terjangan pedang Aora. Perbedaan tenaga mereka terlalu besar, River terlempar menghantam dinding. Untunglah dua teman River menyerang Aora yang teralihkan perhatiannya. Sayangnya tubuh besar Aora masih menyimpan banyak tenaga, dan sekarang ia memberondong salah satu teman River dengan tembakan senapan sambil berlari menghampiri. Terhalang mobil, tembakan Aora tidak berhasil mengenai-oww dia membuang senapan yang habis pelurunya lalu melempar granat. Kena telak sekaligus dengan si mobil.

Nggak ada mantera petir lagi sekarang. River membalas dengan serentetan tembakan tapi semuanya luput. Aora menyelinap ke belakang tembok, melempar granat lagi dan kali ini kena teman River yang satu lagi-belum mati tapi jadinya dia gak bisa bergerak. Kedudukan sekarang sama. Nggak ada bantuan teman lagi.

River maju dan memasang kuda-kuda. Tangannya menggenggam sebilah pedang lengkung. Kalau dia berniat mengintimidasi, dia berhasil. Bahkan gue jadi rada deg-degan, padahal kan cuma jadi penonton. Stadium mendadak sepi saat mereka berdiri berhadapan. Akhirnya setelah hening yang panjang, Aora menghunus pedangnya.

"Mau ini?" Aora mengejek, tangannya yang satu lagi mengacungkan kristal berwarna merah menyala ke arah River. Kristal penentu kemenangan. "Ambil!"

River membalas dengan serangan. la berlari sambil berteriak lalu menghantam Aora dengan pedangnya, namun dengan mudah ditahan pedang Aora. River menyerang lagi, dan lagi-lagi Aora mampu menahan. Kekuatan mereka beda jauh. Saat dibantu teman-temannya River punya peluan& tapi sekarang, satu lawan satu, kemungkinannya tipis. Untuk bisa memenangkan Oblivion ada dua cara: River harus merebut kristal dari Aora lalu menyematkannya ke Piala, atau mengalahkan Aora. Dua-duanya susah.

Aora memburu River sekarang. Dia menebas, menghantam, dan berhasil membuat pedang River terlempar jauh. Tanpa senjata, River cuma bisa mengelak dan menghindar. Gue pasrah. Rasanya nggak mungkin River bakal selamat kalau dia hanya bisa lari, sembunyi di balik benda, melempari Aora dengan batu, kotak bekas dan guci air dari rumah penduduk yang dilewatinya Eh, tunggu, kayaknya River bukan asal menghindar, dia bergerak menuju temannya yang tersisa, yang tergeletak di samping busurnya!

Adegan berikutnya cepat sekali: River menyambar busur dan sebatang anak panah yang menancap di tanah lalu berguIing menjauh, ayunan pedang Aora menghantam tanah tempat River berada satu detik sebelumnya, River melompat ke atas mobil lalu menggunakan dinding sebagai tumpuan untuk melompat lebih tinggi, dan terakhir River melepas anak panah saat ia berada di udara. Gue nyaris nggak bisa mengikuti adegan-adegan tadi saking cepatnya, sehingga perlu beberapa detik untuk menyadari Aora sudah roboh ke tanah dengan anak panah menancap di kepala. Di layar kanan terpampang tulisan dengan huruf besa r-besar.

GAME OVER.

"HOAAAA! RIVEEER!" Stadium gegapgempita oleh sorakan suporter River.

Buset. Adik sepupu gue menang turnamen! Hahaha! Belajar gerakan tadi dari mana dia? Perasaan gue nggak pernah liat karakter dia jumpalitan kayak gitu selama ngelawan gue.

Gue melihat ke atas panggung. River yang asli baru saja berdiri, melepas visor dari matanya, lalu melompat-lompat kegirangan sambil teriak-teriak. Hahaha!

Pembawa acara mengambil alih, dan River dinobatkan menjadi juara turnamen. Trofi dan hadiah langsung diberikan di atas panggung, termasuk duitnya juga dikirim tuntas masuk ke rekening River. Disusul ucapan selamat dari panitia dan berbagai perwakilan komunitas. Konfeti bertebaran, berbarengan dengan alunan musik rock yang membahana. Seluruh penonton ikut bernyanyi, larut dalam luapan kegembiraan. Gue juga ikut dalam euphoria itu, walaupun nggak sampai jingkrak-jingkrak sih, cukup teriak-teriak dan terus tepuk tangan tanpa henti.

Smartwarch gue berkedip. Pesan dari River. Cuma satu kata: 'Bocks-toge.'

Oke. Mari jemput Sang Juara.

Gue cepat-cepat pergi ke belakang panggung. Di sana gue lihat banyak orang masih terus memberi selamat kepada River. Bocah itu cuma cengengesan, sambil terus mengucapkan terima kasih. Begitu melihat gue, dia langsung nyengir selebar-lebarnya, seolah berkata, "Apa gue bilang?"

Gue ketawa, dan ikut memberi selamat. "Good job, Bro. Thork owesome."

Thanks."Cuma itu, kayaknya dia memang belum mampu ngomong banyak saking gembiranya. Dia menatap trofi berkepala elang yang dipegangnya, kemudian cengengesan lagi. "Abis ini naik kelas ke tingkat dunia. Ke Las Vegas."

"Hah? Serius?" tanya gue kaget."Kapan?"

"Oktober, mungkin. Belum tau sih ..."

"Wah. Bukan main-main lagi nih. Duitnya bakalan gede banget tuh."

"Yee, Bang Ryo mikirnya duit mulu."

"Haha. Kayak lu kagak. Dah, ke mana sekarang? Mau langsung pulang?" Gue nanya begitu, karena siapa tahu dia masih mau merayakan ini bersama teman-temannya.

Tapi kayaknya dia sadar bahwa kami berdua ditungguin orang di rumah. "Iya, pulang aja. Tapi makan dulu, Bang. Laper banget nih."

"Ya udah. Gue juga laper. Ayo."

"Gue yang traktir sekarang. Mumpung duit gue lagi banyakan dibanding Bang Ryo. Hahaha." River ketawa lagi, kayaknya beneran seneng banget.