Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Indonesia 2045 - Chapter 5 ~ Image Rights

 


Indonesia 2045 - Chapter 5 Image Rights created by R.D. Villam & Klaudiani

Senin, 31 Juli 2045

Ryo

Gue dan River mampir di restoran pizza yang letaknya nggak jauh dari stadium, makan-makan sebentar buat merayakan keberhasilan River, dan juga membelikan sekotak pizza buat Rain di rumah. Jatah preman. 6ocah itu tadi pagi merengek minta ikut buat menonton River bertanding, tetapi ibunya melarangnya. Seharian dia pasti kesal. Sekarang jika tidak dibelikan pizza favoritnya dia pasti bakalan ngambek dua hari dua malam.

Kami berdua lalu naik Java Express, dan tiba di Tidar sekitar pukul 8 malam. Kemudian lanjut naik kereta dalam kota. Apartemen kami terletak di Lantai 11 dan 12 Menara Lavenderia, sekitar dua kilometer dari stasiun. Masingmasing lantai apartemen itu luasnya enam puluh meter persegi, yang dihubungkan dengan tangga di bagian dalam. Di lantai atas ada tiga kamar-kamar gue, River dan Rain-dan satu kamar mandi. Sementara di lantai bawah ada kamar Paman dan Bibi, ruang keluarga, dapur dan satu kamar mandi. Ini termasuk apartemen kelas menengah di Tidar dan sangat nyaman dihuni. Kami pindah sekitar setahun yang lalu, setelah sebelumnya hanya bisa tinggal di apartemen sempit seluas empat puluh meter persegi selama bertahun-tahun.

Begitu kami masuk, suara nyaring langsung menyambut. "Bang Ryo! Kak River! Gimana tadi turnamennya? Menang nggak? Menang nggak?"

Seorang gadis berumur tiga belas tahun melompat dari kursi sofa yang didudukinya dan lari mendekat. Seperti halnya River, Rain bertampang agak bule. Rambutnya kecokelatan, lurus dipotong pendek seleher, tapi modelnya nggak rata; poni nggak lurus, panjang rambut di sebelah kiri dan kanan juga nggak sama. Tubuhnya relatif kecil dibanding gadis-gadis seusianya, matanya biru dan pipinya chubby. Kalo nyengir senyumannya tengil kayak River. Dan dia betul-betul cerewet. Baru sempat kami membuka mulut buat menjawab, dia sudah memberondong lagi dengan pertanyaan berikutnya,"Itu apa tuh? Pizza ya? Daging sama jamur, bukan?"

Dia menyambar bungkusan yang gue pegang dan membukanya. "Eh betul! Makasih, Bang Ryo."
"River yang beliin," jawab gue sambil terkekeh.

"Makasih, Kak River!" Seolah kelaparan Rain mengambil sepotong besar pizza, mengolesinya dengan saus, kemudian menggigit sambil menggumam, "Mmm nyam nyam nyam." Dia lalu melompat lagi ke atas kursi sofa, kembali menonton film.

"Tuh kan, lo emang cuma mau pizzanya." River ngedumel sambil melepas sepatu. "Sebenernya nggak peduli kan gue menang atau kalah?"

Rain menoleh, mulutnya masih mengunyah. "Eh siapa bilang? Selamet ya, Kak! Empat jempol-eh, dua jempol aja deh!" lanjutnya seraya mengacungkan kedua jempolnya. Hahaha, untung gak sampai mengangkat kedua kaki buat nunjukin jempol kakinya juga.

"Lho? Kok tau gue menang?"

"Hehehe. Tau dong. Kan udah ada rekaman pertandingannya di internet. Nih, udah kudonlod semua." Rain meraih remote tivi. "Kakak mau liat?"

"Hm." River akhirnya tersenyum. "Besok ajalah. Capek."

"Pokoknya mantap deh, Kak River. Keren! Aku sebarin rekamannya ya."

"Eh eh, nggak usah," sahut River, seperti panik. Gue ketawa. River memang rada aneh. Jika tahu kalau sedang disorot kamera dia selalu bisa bergaya sok keren. Tapi kalau dia nggak tahu jadinya nggak pede, takut kalau ekspresinya kelihatan kurang asik dan gayanya nggak keren lagi. Begitulah, lumayan narsis. Haha.

"Eh kepencet nih tombolnya. Wah udah telanjur! Udah telanjur!" Rain
terbahak.

"Hah, terserah deh. Tapi awas kalo ngasih komentar macem-macem di rekamannya, gue kerjain lo. Gue mau tidur." River berdiri, naik tangga menuju kamarnya dan langsung menutup pintu.

Bilangnya sih mau tidur, tapi River kan golongan kalong, biasanya baru tidur paling cepet jam dua belas malam. Nggak bakalan tidur kalau belum nuntasin satu chapter gome atau ngobrol dengan teman-teman komunitasnya yang tersebar di seluruh penjuru nusantara. Tapi mungkin juga sih dia beneran capek dan langsung tumbang. Gue sendiri cuman senyam-senyum mendengar keributan akrab Rain dan River. Setelah melepas sepatu dan meletakkannya di samping pintu, gue duduk di samping Rain.

"Mama mana?" tanya gue. 'Mama' adalah panggilan gue buat Bibi, ibunya Rain dan River. Sejak kecil gue udah tinggal bersama mereka, jadi ya bisa dianggap Bibi itu Mama gue juga.

"Udah tidur. Agak pusing katanya, abis ngajar yoga. Kecapekan kali."

"Oh. Terus Papa belum pulang?"

"Tadi sore udah kok, terus pergi lagi. Katanya ada kerusakan di gardu listrik utama. Agak panik kayaknya. Tapi barusan nelpon katanya udah beres."

Hm, kayaknya ada masalah yang lumayan tuh. Jarang-jarang ada kerusakan di gardu listrik utama. Hampir nggak pernah malah. Wah, kalau beneran rusak terus mati lampu seisi kota bakalan panik nih. Bisa huru-hara. Baguslah kalau sudah beres.

"Kamu belum ngantuk?" tanya gue. Jelas belum kayaknya. Lagi ngerjain apa?"

Rain terkikik geli. "Bang Ryo tau aja. Belajarnya udah kok. Sejarah, geografi, flora, fauna, lengkap. Nggak percaya? Bang Ryo tanya apa aja deh, nanti aku jawab."

Gue ketawa. "Gak usah." Nanyain Rain soal pelajaran sama aja kayak mancing kamus berjalan buat ngomong tanpa henti. Dia itu bocah yang daya ingatnya ajaib gak ketulungan, dan kalau lagi tekun belajar di depan layar hologram, nggak ada yang bisa ngalahin. Dia bisa melahap puluhan program pelajaran dan pengetahuan yang disediakan Departemen Pendidikan dan Perpustakaan Nasional hanya dalam waktu beberapa jam, setelah itu dia bakal jelasin semuanya ke orang yang bersedia mendengarkan, tanpa salah.

Kalau mau sebenarnya dia sudah bisa ikutan tes dan mendapat Sertifikat Keilmuan yang biasanya baru bisa didapat oleh anak-anak berumur empat atau lima tahun di atasnya. River biasanya langsung kabur kalau Rain sudah mulai menjelaskan segala sesuatu kayak lagi baca buku. Sementara gue, kalau sedang ada waktu luang ya senang-senang aja dengerin, tapi kalau sekarang kayaknya jangan dulu deh. Lagi pengen nyantai nih.

"Jadi lagi ngerjain apa?" tanya gue lagi.

"Hmm ini film baru aku," jawab Rain sambil memencet remote tivi.

Layar lebar di dinding langsung menunjukkan pemandangan daratan yang dipenuhi oleh es, dengan langit berwarna biru. Lalu muncul sesosok lakilaki berpakaian tebal yang tengah berjalan menembus salju tebal. Suara napasnya ngos-ngosan. Gumaman laki-laki itu terdengar putus-putus, "... sedikit lagi sedikit lagi ..."

Gue manggut-manggut melihatnya. "Di mana nih? Alaska?"

"Antartika," jawab Rain. "Lima puluh tahun yang lalu."

"Kenapa bukan jaman sekarang setting-nya?"

"Aku lebih suka kondisi sekitar lima puluh tahun yang lalu, waktu Antartika masih sepi, tanahnya belum dikapling-kapling. Trus masih dingin, esnya masih beku berbongkah-bongkah gede, belum banyak yang mencair. Masih banyak penguin, atau anjing laut, yang masih liar dan ada di manamana, nggak cuma dikumpulin di satu tempat." Dari menerawang, tiba-tiba Rain meringis. "Kalo sekarang kan kasian mereka."

"Iya." Gue tersenyum. 'Terus ceritanya apa?"

"Dia ini ..." Rain menunjuk sosok laki-laki di layar, "pergi ke Antartika sama timnya, buat melakukan penelitian tentang iklim, hewan, dan lain-lain. Tapi tiba-tiba, suatu hari ..." suaranya berubah seram, "seorang anggota tim hilang. Besoknya anggota lainnya hilang. Hari-hari berikutnya, terus hilang satu per satu. Sampai akhirnya tinggal dia."

"Lho kok jadi serem ceritanya?" gue protes. Rain terkikik. "Pada ke mana mereka?"

"Rahasia!" jawabnya riang. "Ntar kalo udah jadi, Bang Ryo bisa liat kayak gimana."

"Oke. Tapi udah hampir selesai belum?"

"Ceritanya udah. Script beres. Tinggal proses pembuatan filmnya, aku masih ngumpulin dotobase buat tiap adegan. Paling dua minggu selesai. Nggak panjang kok, durasinya cuma sembilan puluh menit."

Dua minggu selesai! Luar biasa. Gue cuma bisa geleng-geleng kepala lagi. Nggak tau deh pada makan apa adik-adik sepupu gue ini. River jago di game, sementara Rain canggih bikin film. Dan kayaknya Rain sudah masuk ke level advanced nih. Jika sebelumnya dia hanya membuat serial film anakanak dengan tokoh kucing dan anjing yang bisa bicara, dan masing-masing episode hanya tiga puluh menit, sekarang dia mulai bikin film serius dengan kualitas nggak main-main. Jika sebelumnya Rain hanya bisa menjual film-film anaknya ke ratusan orang secara online dengan harga sekadarnya, sekarang ini, jika berhasil, mungkin dia bisa jual ke ribuan orang dengan harga mahal. Mantap. Bikin film di jaman sekarang memang relatif lebih gampang sih. Animasi 3 dimensi sudah sangat mirip dengan aslinya. Wajah manusia sudah bisa benar-benar mirip lengkap dengan segala ekspresinya. Proses penggambaran tiap adegan juga lebih mudah berkat database gambar yang seolah tak terbatas. Tapi tetap saja, jika seseorang nggak punya ketekunan dan bakat, dan nggak pintar bercerita, dia nggak bakalan bisa bikin film yang bagus. Rain berbeda.

"Cuma yang masih bingung nentuin siapa yang jadi bintang-bintangnya," lanjut Rain semangat. "Kayak tokoh utamanya ini, aku sebenernya maunya Chris Evans."

"Si Captain America?"

"Iya. Kan dia favoritku." Rain tertawa. 'Tapi kan jelas gak mungkin, image rights-nya aja mahal banget. Masak mesti bayar milyaran. Jadi ya aku mesti cari bintang lain."

Gue ikut ketawa. Kebayang juga sih, kalau Chris Evans bisa jadi bintang utama di filmnya Rain, pasti bakalan heboh. Si Evans ini, walau sekarang umurnya sudah 60 tahun lebih, tetapi dia tetap muncul di film Captain America terbaru, dan tetap dengan wajah mudanya. Teknologi digital di perfilman membuat seorang kakek-kakek bisa tetap tampil trengginas kayak anak muda. Toh dia nggak perlu akting lagi, semua akting dan adegan dalam film bisa sepenuhnya diolah oleh komputer. Begitulah, jaman sekarang mereka sebetulnya nggak bisa lagi disebut sebagai aktor. Mereka hanya bintang yang menjual imoge rights wajah mereka. Sekarang masih ada sih aktor betulan, dan film yang dibuat dengan cara klasik, tapi sudah nggak lagi populer, karena biayanya ternyata jauh lebih besar.

Terus gimana?" tanya gue.

"Ya cari yang gratisan. Cari bintang yang udah wafat lebih dari lima puluh tahun yang lalu, jadi imoge rights-nya udah habis. Nah," Rain menyentuh lagi remotenya. Layar tivi beralih menampilkan seorang wajah bintang jaman dulu. Laki-laki, masih muda, rambutnya gondrong sebahu. Keren juga. Siapa ya? Kayaknya pernah liat.

"Aku nemu dia nih," lanjut Rain. "Meninggal taun 1993. Lima puluh dua tahun yang lalu. Jadi bisa kupake. Gimana, Bang? Keren kan? Dia dulu bintang paling populer lho, sebelum meninggal. Waktu meninggal umumya baru dua puluh tiga tahun. Pasti orang sekarang pengen liat lagi. Mmm mirip Kak River juga tuh ..."

"Ha? Mirip River? lya juga ya. Hahaha."

"Bang Ryo tau nggak namanya siapa?"

"Siapa?"

"River Phoenix."

"Lha? Namanya River juga?" seru gue terkejut.

"IYA!" balas Rain gak kalah keras. Tapi kemudian berdesis sambil terkikik. "Ssstrt.langan keras-keras. Nanti Kak River denger."

Gue nyengir.'''Hm River namanya ya. Oh, pantes. Pasti Mama dulu ngasih nama River dasarnya dari si River Phoenix ini. Biar ketularan kerennya mungkin. Hahaha."

"Iya kali ya. Tapi jangan bilang Kak River, nanti ge-er dia.... Hmm." Rain kemudian termangu. "Kalo aku, dasarnya dari siapa ya?"

"Wah nggak tau. Coba aja cari di internet. Ada bintang lama yang namanya Rain gak?"

"Udah pernah nyari sih. Ada. Tapi penyanyi cowok dari Korea. Masak aku dari dia?"

Kami berdua tertawa semakin keras.

"Kalo gitu enggaklah," kata gue. "Mama pasti ngasih nama Rain ya karena senang sama hujan. Dan dia ngasih nama River karena senang sama sungai."

"Ya, aku juga lebih senang begitu." Rain tersenyum sambil menerawang, lalu seperti bicara sendiri, "Aku Rain Savitri Bagaskara. Namaku berarti hujan, dan aku sama sekali belum pernah melihat yang namanya hujan."

Ada sedikit nada kesedihan di sana, walaupun dia tersenyum. Dalam hati gue ikut sedih. Waktu masih bayi dulu Rain didiagnosis mengidap penyakit langka bernama Epidermotysis bullosa atau populer dikenal sebagai Burter» Skin. Sebuah penyakit di mana lapisan kulit di tubuhnya bisa rontok hanya karena sebuah tekanan atau gesekan ringan. ltu adalah kelainan genetis di mana ada bagian sel-sel tubuhnya yang bermutasi sehingga menjadi cacat. Penyakit itu dulu tidak bisa disembuhkan, tetapi berkat teknologi kedokteran yang makin canggih sel-sel cacat itu berhasil direkstrukturisasi, dan kini Rain sudah sembuh seperti layaknya anak normal. Walau demikian tetap ada kekhawatiran bahwa penyakitnya itu bisa kambuh sewaktuwaktu, atau ada efek samping yang terjadi jika kulitnya terpapar langsung oleh sinar matahari, atau terkena udara di luar kota yang berdebu. Itulah kenapa dari sejak lahir sampai sekarang kedua orang tuanya selalu menjaga agar Rain tetap berada di dalam kubah kota. Bahkan mengijinkan dia untuk naik kereta pergi sendirian ke kota-kota berkubah lain seperti Halimun mereka juga belum berani. Harus selalu ditemani. Mungkin kekhawatiran itu terasa berlebihan, karena bisa jadi Rain sudah sembuh seratus persen, tapi tetap saja Papa dan Mama tidak bisa disalahkan.

"Kalau Papa atau Mama ngasih ijin, mungkin aku bisa ngajak kamu nanti, sampai ke pinggir kota. Kamu bisa lihat hujan yang turun di luar dari dalam kubah. Mau?"

Senyuman Rain melebar. Matanya berbinar."Mau."

"Kita liat nanti kapan-kapan, oke?"

"Makasih ya, Bang Ryo."

"Iya. Udah, sekarang kamu tidur."

"Yaah belum ngantuk kok," Rain memprotes. "Aku masih pengen ngerjain ini. Pizzanya juga belum abis nih. Hehe."

"Ya udah, aku tinggal dulu." Gue berdiri. Jangan kemaleman."

"Eh bentar, Bang Ryo, malem ini siaran lagi nggak?"

"Siaran?"

"Iya, itu, siaran ke masa lalu." Rain meringis. "Jadi nggak? Jadi ya? Ya?" Mulai maksa dia.

"Hm." Yang dia maksud siaran itu adalah hobi aneh yang sering gue lakuin setiap malem, walau belakangan jarang karena gue sering pulang kemaleman. Gue mikir-mikir dulu dong, soalnya belum ada ide. "Belum tau. Abis mau ngomong apaan lagi."

"Yaah soal Antartika ini aja deh. Gimana?"

"Itu kayaknya topiknya sama aja deh kayak yang kemaren-kemaren."

"Ya nggak apa-apa, diulang lagi, Bang Ryo. Kan bagus."

"Mm oke." Gue akhirnya setuju.

"Sekarang ya?"

"Iya."

"Kalo kemaleman nanti aku keburu ngantuk."

"Iya."

Dasar. Tadi bilangnya belum ngantuk. Terus kenapa sekarang dia jadi lebih semangat dibanding gue ya? Atau semangat gue emang udah mulai luntur?